Thursday, December 8, 2011

Pertama Pergi ke Mesir untuk Berbisnis, Kali Kedua demi Mencari Guru Agama[Kisah Adam Ibrahim (2)]


KABAR APA SAJA-Setelah meninggalkan Mesir, pada akhir Maret 2001, Adam berkesempatan lagi untuk mengunjungi Kairo. Tapi kali ini tujuannya bukan berbisnis melainkan mencari guru agama. Ia bertanya tentang semua hal yang telah ia baca sebelumnya.

Waktu berlalu begitu cepat. Ia merasa tak cukup membincangkan Islam hanya waktu sehari saja. Ketika itu, ia juga datang untuk alasan bisnis. Satu hal yang ia rasakan, ia sudah mulai jatih cinta pada Islam. Ia merasa hatinya telah menjadi hangat. Ia merasa menjadi orang baik.

“Seolah-olah Allah adalah membuka hati saya untuk sisi lain kemanusiaan yang saya tidak pernah tahu sebelumnya,” kata dia. Ia merasa telah menemukan sebuah rumah di Timur Tengah.

Enam bulan berlalu, perusahaan tempat ia bekerja menunjukkan gejala kebangkrutan. Tapi, ia masih ingin tetap pergi ke Kairo. Bukan untuk urusan bisnis, tapi untuk melanjutkan belajar dan bertanya.

Akhirnya, pada suatu malam musim panas yang hangat, sambil berselancar di Internet, sebuah pencerahan tiba-tiba datang. Ia merasa tak ingin lagi melanjutkan hidup sebagai manusia tanpa Tuhan. Ia merasa banyak orang berbicara, tentang melihat cahaya, atau mendengar suara. Ia seolah seperti melihat pertunjukan teatrikal, lebih dari sekedar bisikan namun sesuatu yang bisa membuka hatinya.

“Aku ingin berteriak, berteriak, menangis, menari, berlari, tertawa semua pada waktu yang sama. Aku punya banjir lengkap dari emosi yang sampai hari ini, saya tidak bisa menjelaskan. Beberapa hal lebih baik dinikmati ketimbang dianalisis,” kata dia. Adam lalu mengirimkan email kepada Noha lalu menceritakan apa yang ia rasakan dan menanyakan apa yang seharusnya dilakukan. Noha menyarankannya untuk tetap rileks dan mengumpulkan perasaannya.

Kembali lagi ke Kairo

Kesempatan untuk datang ke Mesir kembali menghampiri Adam. Ia bekerja sebagai konsultan di perusahaan Mesir untuk bidang pemasaran. Ia berteman dengan orang muslim. Semua itu membuatnya merasakan kehangatan suasana rumah.

Hatem, Hany dan Hisyam, mereka adalah sahabat Adam. Dua kawannya yang lain, Mohamad dan Sherief mengetahui Adam ingin tahu lebih banyak tentang Islam.

Mohamad lalu mengajak Adam ke kelompok pengajian laki-laki yang sednag membahas Alquran dan nabi Muhammad. Itu adalah pertama kalinya ia bergabung dan mendengar surat Alfatihah. “Saya tiba-tiba menangis ketika mendengar kata Allah. Seperti merasuk dalam hati saya,” kata dia.

Hari berikutnya,ia menceritakan semua yang ia rasakan kepada Hatem dan Sherief. Mereka sangat mendukung Adam memeluk Islam. Sementara itu, Adam masih memantapkan hati untuk agama Islam

Peristiwa 11 September 2001

11 September adalah peristiwa yang sangat penting. Setelah serangan, semua rekan kerjanya menyampaikan bela sungkawa dan mengatakan bahwa semua itu bukan bagian dari islam. “Ini bukan Islam, tolong jangan berpikir bahwa Muslim adalah orang jahat,” begitu yang dikatakan teman-temannya.

Tak dipungkiri, Adam juga merasakan rasa sakit dan kesedihan. Peristiwa itupun sempat membuatnya berfikir Timur Tengah mungkin bukanlah tempat yang aman bagi orang Amerika. Tapi keimanannya kian mantap. Ia ingat alasan utamanya ke Timur Tengah, Kairo adalah untuk belajar Islam.

Tanggal 2 Oktober 2011, seorang teman mengajaknya untuk pergi ke masjid Al-Azhar. Disanalah, ia pertama kali mengucapkan syahadat. Ia berislam, beberapa pekan setelah insiden 11 September.


http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/12/06/lvqs48-kisah-adam-ibrahim-2-pertama-pergi-ke-mesir-untuk-berbisnis-kali-kedua-demi-mencari-guru-agama

No comments:

Post a Comment

Post a Comment